Semua yang namanya bisnis perlu waktu untuk sampai ke tahap kesuksesan. Berapa
waktu yang lumrah hingga kita menentukan bahwa kita telah gagal? Apakah tiga
bulan, enam bulan, satu tahun atau bahkan tiga tahun?
Tak ada patokan pasti, berapa waktu yang mesti kita siapkan dalam meniti bisnis.
Bagi yang beragama islam, mungkin satu tahun dimana saat lebaran tiba, maka
berharap kehidupan di tahun berikutnya akan lebih baik.
Belajar, apapun bentuknya, perlu waktu. Belajar secara fisik kadang butuh waktu
lebih lama dibandingkan belajar secara mental. Awalnya, mungkin sedikit sulit
mempersiapkan diri untuk mulai berbisnis. Ketika kita sudah menentukan, butuh
waktu lebih lama lagi untuk belajar menekuni bisnis itu sendiri.
Memulai suatu bisnis, kita harus memastikan bahwa tujuan kita adalah untuk
menjadi seorang pelaku bisnis. Perolehan uang banyak dalam waktu singkat tak bisa
dijadikan tujuan awal saat memulai bisnis, mengapa?
Sebut saja Amir, karyawan yang berhenti bekerja kantoran dan mulai mencoba
macam-macam bisnis. Ia ingin sekali menjadi seorang pemilik bisnis, ia tak mau
selamanya menjadi karyawan yang tergantung sepenuhnya pada perusahaan tempat ia
bekerja. Amir ingin dapat memiliki uang banyak sekaligus waktu luang untuk
menikmati uang tersebut.
Baru setelah tiga bulan mencoba menjalankan bisnis, Amir tidak memperoleh
pendapatan seperti yang diinginkannya. Ia pun mulai mencari lowongan kerja
kantoran lagi.
Apa yang salah dari cerita di atas? Yaitu karena Amir berpatokan pada uang yang
di dapat. Tapi ia tak memperoleh uang yang diharapkan dalam rentang waktu tiga
bulan, lalu merasa bahwa ia telah gagal berbisnis. Sikap itu tak bisa disamakan
dengan mereka yang mempunyai alasan kuat untuk menjadi pelaku bisnis.
Jika seseorang sudah menentukan untuk tak mau selamanya menjadi karyawan dan
mengerti bahwa itu berarti ia harus memulai suatu bisnis sendiri, uang yang ia
hasilkan dalam waktu tiga bulan pertama tersebut tak akan mempengaruhinya untuk
lalu memutuskan kembali bekerja kantoran.
Jika keinginan untuk menjadi pelaku bisnis lebih kuat dari sekedar mencari uang
cepat, maka ia akan tetap bertahan demi membawa bisnisnya kearah kesuksesan.
Seiring bertambahnya usia, maka makin sulit kita melupakan hal-hal yang telah
kita pelajari sekian lama, itulah sebabnya Amir lebih memilih untuk kembali
bekerja kantoran. Karena ia sudah terbiasa merasakan terjaminnya hidup dengan
bekerja kantoran, dan kenyamanan hidup yang diakibatkannya. Sementara ia baru
memiliki tiga bulan pengalaman dalam berbisnis. Itulah salah satu alasan kenapa
banyak orang akhirnya kembali ke dunia kantor.
Lalu apakah mempunyai bisnis perlu modal mahal, karena kita tetap harus punya
uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, bagaimanapun ada harga yang mesti
dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apa
artinya pengorbanan untuk hidup di bawah garis standart pada beberapa tahun
pertama, bila akhirnya kita mampu mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak
terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?
Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, namun terbuka
pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka bisa mengandalkan uang gaji bulanan
untuk kebutuhan sehari-hari, sambil menggeluti bisnis sampingan. Bisnis sampingan
lazim memerlukan pengorbanan waktu. Contohnya saat pulang kerja, masih harus
menjalankan bisnis lagi. Melelahkan memang, tapi bukankah hasilnya sebanding
dengan jerih payah?
Tetap bekerja kantoran sambil mulai merintis bisnis adalah cara terbaik, hanya
bila si pelaku sadar benar bahwa tujuan utama adalah untuk membesarkan bisnisnya.
Sehingga apapun yang terjadi, ia tak akan meningggalkan bisnis lalu pasrah untuk
terus menjadi karyawan seumur hidupnya.
Dalam prosesnya, Anda perlu melupakan kenyamanan dan keterjaminan kerja kantoran.
Sehingga pikiran Anda kian terbuka lebar untuk menerima masuknya diri ke dunia
bisnis. Hingga tiba masanya, setelah proses yang demikian panjang, Anda akan
mendapatkan diri Anda telah berada pada posisi seseorang yang berjiwa wirausaha.
Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa dalam proses mencari jiwa
wirausaha, akan terjadi banyak kerugian dan kesalahan. Tapi lagi-lagi, kerugian
bukanlah akhir segalanya. Kesalahan adalah proses dari pembelajaran. Anda belajar
dari kerugian, dari kesalahan yang dibuat. Itu juga berarti bahwa Anda tak akan
belajar jika tidak pernah merugi atau membuat kesalahan.
Kegagalan benar-benar bisa disebut kegagalan ketika Anda berniat untuk berhenti
setelah menghadapi kerugian, atau telah melakukan kesalahan tapi tidak
memperbaikinya. Orang yang berhenti setelah melakukan kesalahan pertama berarti
gagal untuk belajar.
Gambaran di atas merupakan salah satu alasan utama mengapa pelaku bisnis Multi
Level Marketing gagal berbisnis. Mereka lebih menginginkan untuk memiliki uang
banyak dalam waktu cepat daripada menginginkan dirinya menjadi seorang pelaku
bisnis.
Bisnis MLM merupakan satu jenis bisnis yang memberikan berbagai kemudahan. Modal
yang relatif kecil, sistem yang sudah terbentuk, dan bisa dijalankan paruh waktu.
Tanpa komitmen, tanpa tujuan yang benar, berarti Anda tidak memberi kesempatan
pada diri sendiri untuk menemukan jiwa wirausaha. Siapkah Anda berkomitmen
menekuni bisnis MLM untuk membawa diri menjadi seorang pelaku bisnis?
waktu yang lumrah hingga kita menentukan bahwa kita telah gagal? Apakah tiga
bulan, enam bulan, satu tahun atau bahkan tiga tahun?
Tak ada patokan pasti, berapa waktu yang mesti kita siapkan dalam meniti bisnis.
Bagi yang beragama islam, mungkin satu tahun dimana saat lebaran tiba, maka
berharap kehidupan di tahun berikutnya akan lebih baik.
Belajar, apapun bentuknya, perlu waktu. Belajar secara fisik kadang butuh waktu
lebih lama dibandingkan belajar secara mental. Awalnya, mungkin sedikit sulit
mempersiapkan diri untuk mulai berbisnis. Ketika kita sudah menentukan, butuh
waktu lebih lama lagi untuk belajar menekuni bisnis itu sendiri.
Memulai suatu bisnis, kita harus memastikan bahwa tujuan kita adalah untuk
menjadi seorang pelaku bisnis. Perolehan uang banyak dalam waktu singkat tak bisa
dijadikan tujuan awal saat memulai bisnis, mengapa?
Sebut saja Amir, karyawan yang berhenti bekerja kantoran dan mulai mencoba
macam-macam bisnis. Ia ingin sekali menjadi seorang pemilik bisnis, ia tak mau
selamanya menjadi karyawan yang tergantung sepenuhnya pada perusahaan tempat ia
bekerja. Amir ingin dapat memiliki uang banyak sekaligus waktu luang untuk
menikmati uang tersebut.
Baru setelah tiga bulan mencoba menjalankan bisnis, Amir tidak memperoleh
pendapatan seperti yang diinginkannya. Ia pun mulai mencari lowongan kerja
kantoran lagi.
Apa yang salah dari cerita di atas? Yaitu karena Amir berpatokan pada uang yang
di dapat. Tapi ia tak memperoleh uang yang diharapkan dalam rentang waktu tiga
bulan, lalu merasa bahwa ia telah gagal berbisnis. Sikap itu tak bisa disamakan
dengan mereka yang mempunyai alasan kuat untuk menjadi pelaku bisnis.
Jika seseorang sudah menentukan untuk tak mau selamanya menjadi karyawan dan
mengerti bahwa itu berarti ia harus memulai suatu bisnis sendiri, uang yang ia
hasilkan dalam waktu tiga bulan pertama tersebut tak akan mempengaruhinya untuk
lalu memutuskan kembali bekerja kantoran.
Jika keinginan untuk menjadi pelaku bisnis lebih kuat dari sekedar mencari uang
cepat, maka ia akan tetap bertahan demi membawa bisnisnya kearah kesuksesan.
Seiring bertambahnya usia, maka makin sulit kita melupakan hal-hal yang telah
kita pelajari sekian lama, itulah sebabnya Amir lebih memilih untuk kembali
bekerja kantoran. Karena ia sudah terbiasa merasakan terjaminnya hidup dengan
bekerja kantoran, dan kenyamanan hidup yang diakibatkannya. Sementara ia baru
memiliki tiga bulan pengalaman dalam berbisnis. Itulah salah satu alasan kenapa
banyak orang akhirnya kembali ke dunia kantor.
Lalu apakah mempunyai bisnis perlu modal mahal, karena kita tetap harus punya
uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, bagaimanapun ada harga yang mesti
dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apa
artinya pengorbanan untuk hidup di bawah garis standart pada beberapa tahun
pertama, bila akhirnya kita mampu mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak
terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?
Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, namun terbuka
pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka bisa mengandalkan uang gaji bulanan
untuk kebutuhan sehari-hari, sambil menggeluti bisnis sampingan. Bisnis sampingan
lazim memerlukan pengorbanan waktu. Contohnya saat pulang kerja, masih harus
menjalankan bisnis lagi. Melelahkan memang, tapi bukankah hasilnya sebanding
dengan jerih payah?
Tetap bekerja kantoran sambil mulai merintis bisnis adalah cara terbaik, hanya
bila si pelaku sadar benar bahwa tujuan utama adalah untuk membesarkan bisnisnya.
Sehingga apapun yang terjadi, ia tak akan meningggalkan bisnis lalu pasrah untuk
terus menjadi karyawan seumur hidupnya.
Dalam prosesnya, Anda perlu melupakan kenyamanan dan keterjaminan kerja kantoran.
Sehingga pikiran Anda kian terbuka lebar untuk menerima masuknya diri ke dunia
bisnis. Hingga tiba masanya, setelah proses yang demikian panjang, Anda akan
mendapatkan diri Anda telah berada pada posisi seseorang yang berjiwa wirausaha.
Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa dalam proses mencari jiwa
wirausaha, akan terjadi banyak kerugian dan kesalahan. Tapi lagi-lagi, kerugian
bukanlah akhir segalanya. Kesalahan adalah proses dari pembelajaran. Anda belajar
dari kerugian, dari kesalahan yang dibuat. Itu juga berarti bahwa Anda tak akan
belajar jika tidak pernah merugi atau membuat kesalahan.
Kegagalan benar-benar bisa disebut kegagalan ketika Anda berniat untuk berhenti
setelah menghadapi kerugian, atau telah melakukan kesalahan tapi tidak
memperbaikinya. Orang yang berhenti setelah melakukan kesalahan pertama berarti
gagal untuk belajar.
Gambaran di atas merupakan salah satu alasan utama mengapa pelaku bisnis Multi
Level Marketing gagal berbisnis. Mereka lebih menginginkan untuk memiliki uang
banyak dalam waktu cepat daripada menginginkan dirinya menjadi seorang pelaku
bisnis.
Bisnis MLM merupakan satu jenis bisnis yang memberikan berbagai kemudahan. Modal
yang relatif kecil, sistem yang sudah terbentuk, dan bisa dijalankan paruh waktu.
Tanpa komitmen, tanpa tujuan yang benar, berarti Anda tidak memberi kesempatan
pada diri sendiri untuk menemukan jiwa wirausaha. Siapkah Anda berkomitmen
menekuni bisnis MLM untuk membawa diri menjadi seorang pelaku bisnis?